Pada 23 Desember Law Connection mengadakan kajian hukum pidana yang rutin dilaksanakan pada hari rabu. Tema Kali ini adalah membahas mengenai kekerasan terhadap anak. Kajian ini diisi oleh Alfian Mahendra, S.H dan dipandu oleh anggota Law Connection, Shafira Fatahaya.

kekerasan pada anak tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, bahakan anak- anak bisa melakukan kekerasan. Contohnya adalah bullying. Dampak dari bullying sangatlah berat dan membekas karena, dampaknya bisa berupa fisik dan psikis. Bullying merupakan salah satu kekerasan terhadap anak yang paling banyak terjadi saat ini. Selain bullying, kekerasan yang dilakukan oleh anak- anak adalah tawuran. Hal ini dikarenakan anak belum bisa menemukan jati dirinya.

Salah satu faktor penyebab kekerasan terhadap anak adalah pola asuh. Pola asuh yang memanjakan anak mampu membuat karakter anak menjadi arogan dan tidak bisa mengontrol emosinya. Emosi serta psikologi dari orang tua memiliki pengaruh yang besar terhadap karakter anak. Sehingga, orang tua yang memiliki masalah baik secara psikologi, ekonomi dan lain sebagainya berpotensi menciptakan anak yang berkarakter keras.

Selain keluarga, lingkungan pun menjadi faktor adanya kekerasan terhadap anak. Anak berada di posisi rentan sehingga anak sangat memerlukan perlindungan. Ketentuan mengenai perlinfungan khusus sterhadap anak telah diatur dalam Undang- Undang Perlindungan Anak.

Walaupun perlindungan anak telah diatur dalam undang- undang, namun pada faktanya kekerasan terhadap anak masih banyak terjadi. Kekerasan ini mengatasnamakan ‘pendisiplinan’, sebuah alasan klasik namun kehadirannya masih kental di masyarakat. Dengan hadirnya UU Perlindungan Anak, kekerasan terhadap anak dengan mengatasnamakan pendisiplinan perlahan mulai hilang. UU ini menjelaskan bahwa kekerasan bukanlah satu- satunya cara untuk mendidik anak.

Penanggulangan kekerasan terhadap anak dpat dilakukan melalui jalur pidana dan perdata. UU Perlindungan Anak telah mengalami revisi yang menambahkan aturan mengenai pemberatan sanksi pidana jika pelaku kekerasan pada anak adalah orang yang dekat dengan anak.

Selain melalui jalur hukum, upaya penanggulangan kekerasan terhadap anak juga dapat diterapkan melalui penerapan pendidikan anti kekerasan. Karena, kondisi psikis anak haruslah diperhatikan karena menentukan masa depan anak. Sehingga, kekerasan bukanlah cara yang tepat untuk mendidik anak. Pendidikan kepada anak haruslah bersifat suportif atau mendukung bukanlah malah menghakimi dan dengan kekerasan sehingga, menimbulkan trauma bagi anak. Upaya lainnya adalah dengan melihat kondisi kehidupan sehari- harinya. Hal ini sangat berpengaruh untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada.

Selain keluarga dan lingkungan sekitar, pemerintah juga memiliki andil yang besar dalam mendukung penanggulangan kekerasan terhadap anak. Pemerintah perlu mengeluarkan peraturan serta program yang mendukung pencegahan serta perlindungan terhadap anak. Beruntung pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No,or 2 Tahun 2010 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Anak (Permen No. 10 Tahun 2010 tentang RAN PPKTA). Permen ini menguraikan tentang program yang akan dilakukan berkaitan dengan pencegahan dan penanganan kekrasan terhadap anak.

Setelah pemaparan materi selesai, maka diadakan sesi tanya jawab. Antusiasme peserta sangatlah besar sehingga banyak pertanyaan yang terlontarkan dari peserta.

Q: Relational Bullying termasuk kepada kekerasan psikis namun, tidak memiliki bukti yang ‘nyata’ seperti kekerasan fisik. Lalu, bagaimana cara melaporkan relational bullying yang dialami anak di sekolah jika kekerasan tersebut sudah parah tapi memiliki kekurangan bukti?

A: Bullying lebih kepada fisik. Untuk melaporkan anak yang menjadi korban bullying, Di Indonesia sudah banyak provinsi yang memfasilitasi penanggulangan kekekerasan terhadap anak. Ada P2TP2A yang dikhususkan untuk korban- korban kekerasan. Selain itu ada juga LPKS yang lebih berfokus pada rehabilitasi.

Q: Bagaimana jika terjadi kekerasan pada anak yang mana pelakunya juga merupakan seorang anak?

A: Untuk penanganan jika korban dan pelaku sama- sama anak. maka kedua- duanya perlu didahulukan. Karena, seorang anak menjadi pelaku disebabkan oleh kelalaian orang tuanya. Sehingga anak yang menjadi pelaku juga merupakan seorang korban. Penyelesaian kasusu tersebut dapat dilakukan melalui jalur luar pengadilan, yaitu diversi. UU Perlindungan Anak lebih berfokus kepada pembinaan anak dibandingkan pada efek jera yang akan didapatkan. Pelaksanaan pemeriksaan pun harus dilakukan oleh pihak- pihak yang memenuhi kualifikasi sebagai pemeriksa anak. Seperti hakim anak dll.

Q: Bagaimana cara melaporkan kasus kekerasan terhadap anak apabila kekerasannya menyerang psikis yang cenderung sulit dibuktikan?

A: Dapat dilaporkan ke P2TP2A yang dapat dijadikan tempat anak menceritakan masalahnya sehingga kasus serta pelakunya dapat diketahui. Walaupun terjadi kekurangan bukti (utamanya psikis), namun, pemerintah akan membantu karena itu merupaakan tugasnya.

Q: Terdapat kasus anak yang melakukan tindak pidana namun, orang tua seperti sudah menyerah untuk mengurusnya dikarenakan si anak sussah dibilangin dan kurangnya pendidikan yang dienyam oleh orang tuanya dengan alasan kekurangan biaya. Karena, sebagaimana yang kita ketahui untuk bersekolah di swasta memerlukan biaya yang tidak kecil. Sedangkan, jika ingin bersekolah di negri biasanya hanya anak berprestasi/ pintar yang diterima, sehingga anak yang tidak berprestasi dan kurang pintar terpakasa harus masuk swasta atau bahkan tidak sekolah. Jika demikian, apakah tetap orang tua yang disalahkan? atau sistem pendidikan kita? Lalu apakah adil jika hanya anak yang dihukum? Karena hal tersebut disebabkan latar belakang keluarganya?

A: Dalam UUD telah diatur bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan. Namun, pada kenyataanya sekolah gratis biasanya terjadi di kota besar. Dan di luar itu, sekolah memiliki fasilitas yang kurang memadai serta kurangnya biaya pendidikan. Permasalahn ini masih banyak terjadi, khususnya di daerah terpencil. Sudah seharusnya pemerintah daerah mendukung majunya pendidikan di daerahnya sendiri. Hal ini menjadi penting karena anak adalah penerus generasi bangsa yang nantinya akan memegan negara ini. Itulah mengapa anak menjadi aset penting bagi negara. Faktor ekonomi berpengaruh besar khususnya terhadap orang tua. Keadaan ekonomi orang tua menetukan baagaimana pendidikan yang akan didapat oleh anak dan akan berpengaruh terhadap sifat anak.

Q: Bagaimana jika kasus bullying yang terjadi di sekolah malah ditutupi oleh pihak sekolahnya?
A: kenyataanya hal ini sering terjadi. Biasanya terjadi pada sekolah yang memiliki akreditasi dan nama baik. Seharusnya kasus seperti ini dimintai pertanggungjawaban dari kepala sekolah. Karena, dampak bullying sangat parah sehingga perlu ditindaklanjuti secara serius bukan malah ditutupi. Deasa ini orang tua semakin berani dan tegas dalam menghadapi kasus bullying. Orang tua bisa melaporkan sekolah tersebut ke Dinas Pendidikan. Seharusnya yang ditutupi adalah identitas korban dan bukan masalahnya.

Closing Statement: Jangan pernah meremehkan anak. Karena kita tidak pernah tahu siapa anak itu sebenarnya dan akan menjadi apa kelak di suatu hari.

Categories:

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *